Citilink Maskapai Pelestari Budaya Pantun

Citilink Maskapai Pelestari Budaya Pantun

Citilink Lestarikan Budaya Indonesia Lewat Salam Pantun

Citilink, anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk. untuk jasa penerbangan berbiaya murah (LCC), terus meningkatkan layanan terbaik kepada seluruh penggunanya. Tepat, Selasa, 7 Mei 2013, Vice President Marketing & Communication PT Citilink Indonesia, Aristo Kristandyo, mengumumkan penerapan prosedur terbaru di dalam kabin pesawat, yaitu Salam Pantun oleh awak kabin di setiap penerbangan Citilink ke seluruh destinasi. Salam Pantun ini dimulai efektif Minggu, 5 Mei 2013.

“Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Salam Pantun oleh seluruh awak kabin kami ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan layanan terbaik sesuai dengan semangat Citilink sebagai maskapai LCC yang fun, affordable, and reliable.

Kami yakin dengan ciri khas kami yang baru ini memberikan pengalaman tak terlupakan bersama Ciitilink,” ujar Aristo.

Salam Pantun menjadi prosedur tetap dari Citilink untuk menyapa seluruh penumpang baik sebelum lepas landas dan mendarat di kota tujuan. Isi Salam Pantun yang menjadi ciri khas terbaru Citilink ini akan menyesuaikan dengan setiap kota destinasi.

“Tidak menutup kemungkinan Salam Pantun ini akan menjadi menarik saat ada penumpang yang akan berbalas pantun di atas udara,” tambah Aristo.

Aristo juga mengungkapkan bahwa Citilink akan terus menghadirkan inovasi dalam pelayanan Citilink di masa mendatang.

Berikut Travel Experiences Seorang Penumpang Maskapai Citilink:

Maskapai Pelestari Budaya Pantun

Sekitar dua minggu yang lalu saya terbang dari dari jakarta tujuan jogja dengan menggunakan maskapai citilink. Maskapai penerbangan yang satu ini kini tengah digandrungi banyak orang. Sebagai maskapai anak perusahaan garuda indonesia, citilink mengusung penerbangan yang berbiaya murah namun tetap dengan pelayanan prima. Banyak yang penasaran seperti apa maskapai yang masih tergolong baru ini. Kini saya pun sudah merasakan terbang bersama citilink. Sebagai salah satu penumpang yang sudah merasakan pelayanan yang diberikan oleh maskapai ini tentu saya boleh dong menceritakan kembali pengalaman-pengalaman berkesan yang saya alami sebagai bentuk terima kasih.

Siang itu cuaca cukup cerah dan panas. Hari minggu yang bersahabat. Setelah solat zhuhur, saya langsung check out dari hotel kemudian langsung menuju ke bandara. Sebenarnya jadwal penerbangan saya adalah pukul 15.05 wib tapi karena tak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan di hotel sendirian dan takutnya malah ketiduran lebih baik langsung saja ke bandara. Sekaligus untuk menghindari kemungkinan jalanan macet dan antrian penumpang saat melakukan check in untuk boarding pass.

Mungkin karena saya datang terlalu awal maka tak ada antrean saat melakukan check in. Saya bisa langsung check in dengan nyaman. Saya pun dapat seat dekat jendela. Kemudian setelah membayar pajak bandara langsung menuju terminal keberangkatan. Untuk penerbangan ke jogja, penumpang menunggu di ruang tunggu C4.

Suasana siang itu di bandara Soetta memang sangat sepi. Ada juga untungnya kalau datang lebih awal. Kita bisa merasakan suasana bandara yang sepi dan serasa berada di rumah sendiri. Kita bisa foto-foto, internetan, tidur-tiduran dan sebagainya sepuas hati. Ketika saya masuk ke ruang tunggu baru ada dua orang penumpang yang juga belum lama sampai. Seru juga deh pokoknya. Gak ada suara ribut-ribut calon penumpang. Hehehe…

Cukup bosan juga sih sebenarnya menunggu penerbangan jika datang lebih awal seperti itu. Apalagi saya kembali ke Jogja hanya seorang diri. Tak ada teman yang bisa diajak mengobrol. Untuk mengurangi rasa jenuh saya pun memanfaatkan fasilitas internet gratis yang ada di ruang tunggu.

Sebenarnya sejak awal sampai di ruang tunggu, pesawat yang akan digunakan untuk penerbangan ke Jogja sudah terparkir di luar gedung ruang tunggu. Pesawat itu tinggal menunggu jadwal diterbangkan. Hanya menunggu pilot dan para pramugarinya saja..

Beberapa menit sebelum keberangkatan, pilot dan pramugarinya sudah masuk ke dalam pesawat. Petugas bandara juga sudah mendahulukan penumpang khsusus yang harus didahulukan masuk ke dalam pesawat. Setelah itu barulah giliran penumpang lain untuk masuk ke dalam pesawat dengan tertib.

Saat akan memasuki pesawat, pramugari sudah menunggu dengan senyuman manisnya. Penumpang di persilahkan masuk dengan sopan dan ramah. Di dalam pesawat, pramugarinya juga membantu penumpang meletakkan barang di bagasi dengan cekatan.

Kondisi pesawat yang kami tumpangi masih bagus dan dalam kondisi yang baik. Interiornya keluaran baru dan apapun yang ada dalam pesawat itu menunjukkan kalau pesawatnya masih baru dan sangat layak terbang.

Tak ada yang spesial saat pramugari mendemonstrasikan prosedur keselamatan penumpang. Pramugari memperagakan sama seperti pramugari-pramugari di maskapai lain. Hanya saja pramugari citilink terlihat lebih bersemangat dalam memperagakan.

Penerbangan dari Jakarta ke Jogja dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 50 menit. Selama penerbangan saya tidak sempat tidur tak seperti penumpang kebanyakan yang bisa tidur sesaat selama penerbangan. Saya mengisi waktu dengan membaca majalah yang yang disediakan di belakang kursi penumpang.

Sudah tiba saatnya pesawat akan landing ke daratan. Penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman dan bersiap untuk goncangan yang akan dirasakan. Namun sang pilot mampu melajukan pesawat dengan baik. Goncangannya tak seperti goncangan pesawat pada umumnya namun lebih terasa seperti menumpangi mobil di daratan.

Kata sepasang lansia yang berada di dekat saya, mereka puas dengan cara pilot saat melakukan landing. “landingnya oke ya. Jatuhnya enak. Ini baru pilot yang bagus..” Kata nenek itu sambil menunjukkan ekspresi puas di wajahnya.

Hal yang paling berkesan dan tidak bisa dillupakan pada penerbangan citilink kali itu adalah lantunan pantun yang mengalun indah yang disampaikan pramugari beberapa saat sebelum penumpang keluar. Pantunnya unik dan menarik dan terdengar lebih modern. Kata-kata pantun yang digunakan unik dan berkesan. Citilink memang suka memakai pantun. Saat berpromosi di koran, citilink kerap mengeluarkan pantun-pantun unik untuk menarik calon penumpang.

Mungkin inilah keunikan terbang bersama citilink. Penumpang akan terhibur dengan pantun yang dipersembahkan pramugari sebelum berpisah meninggalkan pesawat.

Sebagian besar penumpang memang merasa sangat terhibur dengan cara citilink memakai pantun. Saat penerbangan kali itu, saya menjumpai para penumpang tersenyum dan bahkan sampai tertawa ketika selesai mendengar pantun yang dibawakan pramugari. 

Mungkin dengan pantun itulah citilink mampu membuat penumpang enjoy dan rileks setelah terbang bersama citilnk dan keluar dari pesawat dengan senyum dan perasaan senang.

Ciri khas citilink ini perlu diapresiasi. Sebuah cara dalam melestarikan pantun sebagai budaya bertutur di nusantara. Pantun adalah bagian dari budaya indonesia yang harus terus dilestarikan supaya tidak punah karena banyak masyarakat yang sudah meninggalkan dan melupakan budaya bertutur yang satu ini. Ke depannya mungkin citilink bisa menggunakan bahasa daerah di setiap penerbangan yang dituju. Misalkan ketika mendarat di bandara internasional minangkabau bisa memakai pantun berbahasa minang atau ketika penerbangan ke jogja bisa dengan pantun berbahasa jawa. Setelah pantun berbahasa daerah bisa ditranslate dengan pantun berbahasa indonesia. Saya rasa hal itu pasti akan sangat menarik bagi penumpang.

Ke depannya citilink perlu melakukan inovasi-inovasi baru lainnya dalam melayani penumpang. Saya sebagai penumpang yang mungkin nanti akan menjadi pelanggan setiap maskapai ini sangat mengharapkan hal itu. Tiket penumpang yang murah dan stabil, penambahan jumlah jadwal penerbangan, penentuan jadwal terbang yang tepat dan pelayanan-pelayanan lainnya yang memanjakan penumpang tentunya sangat diharapkan.

Penulis: Akbar Pitopang (Kompasiana)

Mungkin Anda Suka

Komentar